Analisis
Public Relation
Oleh
Namratul
Ulya Fathulimamah Murdani
195120207111054
Jurusan
Ilmu Komunikasi
Kelas
Dasar-Dasar Public Relations D-2 (Kamis, 9.40-12.10)
1. Tentunya
sebagai Public Relation sudah seharusnya focus kepada publisitas organisasinya
daripada iklan. “Publisitas adalah publikasi perusahaan yang dimuat media
massa” (Kriyantono, 2008:41)
Kriyantono (2008) memaparkan terdapat
beberapa kelebihan dari publisitas yakni :
1. Publisitas memiliki kredibilitas tinggi
di mata khalayak.
Karena pada dasarnya khalayak lebih
mempercayai informasi yang diberikan oleh orang lain ketimbang anda langsung.
Wartawan bukanlah bagian dari ‘mereka’ (perusahaan atau instansi lainnya) jadi,
informasi yang disampaikan dianggap lebih objektif atau tidak memihak Informasi
yang disajikan juga merupakan fakta karena dilihat dari sudut pandang orang
lain yang melihat langsung.
2. Publisitas tidak berbayar
Yang dimangsud tidak berbayar tidak
memerlukan biaya sewa untuk kolom surat kabar, slot waktu untuk radio dan
televisi atau ruang untuk media lainnya (Kriyantono, 2008 : 46). Hal ini yang
merupakan pembeda publisitas dengan iklan. Jika iklan dalam pemasangannya di
media massa harus membayar space, publisitas tidak berbayar. Karena apa yang
dimuat di media massa murni keinginan dari wartawan yang memberitakan bukan
merupakan keinginan dari perusahaan terlebih public relations perusahaan
tersebut.
Penjelasan tersebut sesuai dengan
Blanco, J (2004, h. 1) yang
mendefinisikan tentang publikasi:
Publicity is free,
perceived as objective, and defined as any kind of media or news coverage.
Every time you see someone interviewed on a television or radio show, in a
newspaper or magazine, that’s publicity. No one paid the media outlet to do the
interview. A persistent and assertive publicist convinced a producer or editor
that this particular guest would provide information that would impact lives.
3. Publisitas memungkinkan cerita lebih detail
tentang produk dan perusahaan
Publisitas menjelaskan detail produk,
mulai dari produk apa, dimana dan kapan peluncurannya serta tempat
mendapatkannya, siapa yang memproduksi, mengapa diproduksi untuk tujuan apa,
dan bagaimana penjelasan mengenai produk tersebut bahkan sampai ke detail yang
rumit mengenai detail produk atau perusahaan bisa juga diperoleh wartawan saat
launching, sehingga upayakan agar publisitas mengenai produk atau perusahaan
dulu yang muncul, baru iklannya yang keluar. Karena jika iklan dulu yang
keluar, nilai dari produk tersebut akan menurun.
4. Dapat menjelaskan mengenai “cacat produk”
Yang dimalsud menjelaskan cacat
produk disini adalah publisitas bisa digunakan untuk memberikan penjelasan
detail mengenai cacat produk yang sebelumnya telah diberitakan atau diketahui
publik, karena sifat publisitas yang detail dan terpercaya. Disini wartawan
dapat menjadi penyelamat suatu perusahaan, jika beberapa produk mengalami
kecacatan produk. Namun, terkadang ketika terjadi kecacatan pada suatu produk
hal tersebut dapat disebabkan oleh dua hal. Pertama, kecacatan yang memang
benar-benar ada pada produk tersebut dan kedua kecacatan yang dibuat-buat oleh
pihak lain yang tidak menyukai adanya produk tersebut atau perusahaan pemilik
produk tersebut. Disini, Public
relations bisa mengundang wartawan dengan press gathering atau press tour,
untuk melihat proses produksi barang secara langsung, sehingga sifatnya sudah transparan
dan biarlah wartawan menulis sesuai apa yang mereka lihat.
2. Para praktisi humas menggunakan periklanan ketika mereka ingin mengontrol pesan yang dikirim, termasuk kapan dan dimana pesan disampaikan.
Iklan dibedakan menjadi 4 yaitu sebagai berikut:
a) Public Relation Advertising
Adalah iklan yang ditujukan kepada masyarakat dengan tujuan menjelaskan tentang suatu hal yang menyangkut pelayanan. Sifat pesannya adalah informative atau sekedar pemberitahuan melalui media massa. Keuntungan iklan jenis ini adalah mengurangi kesalahan petugas humas dalam menyampaikan hal-hal yang mungkin belum dikuasai.
b) Institutional Advertising
Iklan bertujuan untuk memperkuat image dan awareness (kesadaran). Pesan-pesan yang disampaikan cenderung lebih filosofi. Keuntungan jenis iklan ini adalah menjadikan perusahaan tampil lebih “berwibawa” dan mengesankan “kebesarannya”.
c) Corporate Identity Advertising
Iklan yang menampilkan beberapa identitas perusahaan yang terdiri dari grafik, logo, warna identitas, nama perusahaan, dan desain fisik lainnya. Jenis iklan ini bisanya digunakan bila perusahaan ingin menyampaikan adanya perubahan identitas. Keuntungan iklan ini adalah dapat mempermudah masyarakat mengenal dan mengingat perusahaan.
d) Recruitmen Advertising
Iklan yang bertujuan untuk merekrut pegawai/karyawan baru. Bentuk, ukuran, desain, penggunaan kata dan kejujuran dalam iklan lowongan pekerjaan menjadi pertimbangan tersendiri bagi masyarakat untuk menilai reputasi perusahaan.
Praktisi humas yang care terhadap terbentuknya image perusahaan seharusnya dilibatkan dalam proses pembuatan iklan. Begitu pula perusahaan dapatmembuat dan merancang iklan yang membawa pesan image tertentu tentang perusahaannya secara elegan.
3. Tell The Truth (Mengatakan Kebenaran)
Mengatakan kebenaran (tell the truth) merupakan
prinsip dasar dalam praktik yang public relations untuk membangun kepercayaan
publik. Perspektif Indonesia mengatakan ajining diri dumunung ana ing lathi dan
basa iku busananing bangsa, yaitu kehormatan pribadi adalah pada kata-kata
seseorang. Dengan keterbukaan, serta memberikan informasi yang benar, sebuah
organisasi akan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi dan
mendapatkan kepercayaan publik yang nantinya akan merangsang dan menciptakan
dukungan publik serta kerjasama.
Pentingnya mengatakan yang sebenarnya
direpresentasikan dalam jeung leweh mah memperbaiki waleh (lebih baik untuk
mengatakan sesuatu terus terang daripada menjaga kata karena tidak cukup berani
untuk memberitahu). Dari perspektif ini, praktisi PR tidak perlu takut dipecat
sebagai akibat dari mencoba untuk melakukan fungsinya dengan baik. Jika
organisasi melakukan perbuatan yang salah, maka public relations akan
memberikan saran berdasarkan sikap ulah unggut kalinduan, ulah gedag kaanginan,
yang berarti bahwa harus ada konsistensi dalam kebenaran dan kesesuaian antara
batin-diri dan rasionalitas. Kuncinya adalah kemampuan untuk berkomunikasi dan
menggunakan kata yang tepat untuk membujuk manajemen dan masyarakat tanpa
menyebabkan penghinaan. Ttruth atau kejujuran adalah sangat penting sebagai
landasan hidup karena dari perspektif Indonesia, karakter Tuhan menuntun
perilaku: ing donya iki ana rong warna sing bener diarani, yakuwi bener
mungguhing Pangeran lan bener saka kang Lagi kuwasa (ada dua macam kebenaran di
dunia: kebenaran Allah dan kebenaran manusia). Ini berarti bahwa PR tidak selalu
harus bertindak sebagai manajemen akan tetapi juga bisa sebagai kehendak Tuhan
yang diwakili dalam batin-diri. Kepemimpinan yang tepat juga penting: Aju
malurue'mi riala parewa bola (hanya kayu tegak dapat digunakan untuk membuat
rumah) menyiratkan bahwa seorang pemimpin melindungi anggotanya. Oleh karena
itu, diperlukan orang-orang yang jujur dan terbuka kepada public yang berposisi
sebagai Public Relation.
4. Di era 4.0 ini yang didorong oleh perkembangan
teknologi informasi, baik media maupun humas perlu melakukan refleksi tentang
prinsip keprofesionalitasan diri. Humas sebagai lembaga publik, seharusnya
meninggalkan model komunikasi satu arah (asimetris) dan berubah ke model dua
arah timbal balik (simetris). Model terakhir ini merupakan model komunikasi
ekselen (dikenal sebagai Excellence Public Relations) yang digagas oleh James
Grunig, dkk. setelah melakukan riset terhadap 321 perusahaan di Inggris,
Amerika dan Kanada selama 15 tahun (Grunig, Dozier, dkk, 2008).
Model ini mendeskripsikan tentang teknik-teknik
berkomunikasi antara Humas dengan publiknya berdasarkan dua dimensi, yaitu arah
komunikasi dan keseimbangan kepentingan antara kedua pihak. Dimensi arah
komunikasi menjelaskan perilaku komunikasi antara lembaga dan publik, apakah
monolog satu arah yang bersifat menyebarkan informasi atau dialog dua arah yang
bersifat pertukaran informasi. Dimensi keseimbangan kepentingan mencakup
seimbang tidaknya kepentingan lembaga dan publik, yaitu posisi tidak
seimbang/asymmetric atau posisi seimbang/symmetric antara lembaga dan
publiknya.
Menurut Fawkes (2004), Grunig & Hunt (1984), dan
Harrison (2009), ini adalah model yang ideal karena mengutamakan dialog secara
penuh dengan publiknya serta fokus pada upaya membangun hubungan dan pemahaman
bersama. Model komunikasi ekselen ini juga menyaratkan Humas lembaga publik
berprinsip “satu kaki di pihak pemerintah, satu kaki di pihak publik termasuk
media,” yaitu sebagai kepanjangan tangan pemerintah dan juga menyuarakan
aspirasi publik dan media. Humas berupaya agar ”suara” publik dapat dilibatkan
dalam proses pengambilan keputusan. Jadi bisa dikatakan bahwa Public Relation
mampu menuliskan sebuah berita guna memenuhi tugas sebagai tangan Panjang pemerintah
namun juga sebagai organisasi yang menyampaikan aspirasi public dan media.
Prinsip Objektivitas
Di pihak lain, PR juga mesti menumbuhkan kesadaran untuk
melakukan tugas jurnalistik dengan mengedepankan prinsip ‘pemenuhan amanat
masyarakat akan informasi publik’, yang akan mendorong sifat kritis dan
objektif beriringan dalam berita yang dibuat. Kemampuan menulis berita dengan
prinsip objektivitas berita dari Westerthal (McQuail, 2010) – Faktualitas dan
Imparsialitas – akan menghindarkan para pekerja media dari praktik jurnalistik
yang menyimpang (jurnalistik katanya, jurnalistik konon), yang muaranya adalah
produk informasi yang berkualitas.
Berita yang diciptakan tentunya harus berdasarkan
fakta bukan karangan atau opini wartawan. Fakta dalam berita harus dapat
dikonfirmasi ulang atau dicek dengan sumber berita. Tidak mencampuradukkan
antara fakta dengan opini pribadi wartawan. Fakta adalah hasil pengamatan dan
wawancara si wartawan. Sedangkan opini adalah pendapat yang berisi nilai-nilai
pribadi wartawan. Termasuk faktual di sini adalah sifat relevansi dan
informatif. Pentingkah materi berita itu bagi pembaca? Apakah dibutuhkan?
Sementara berita dituntut berisi informasi yang jelas dan lengkap mengenai
peristiwa yang diberitaka . Agar informatif, berita harus komprehensif tetapi
fokus (tidak bertele-tele), ringkas (concise), jelas (clarity), mengandung
5W+1H, dan mudah dipahami oleh pembaca dan tentunya berita yang diciptakan
bersifat Imparsialitas yang berarti berita tidak berpihak pada satu golongan
tertentu dan tidak sepotong-sepotong dalam memberitakan peristiwa
Contoh kasus yang diambil melalui Public Relations Humas
Simetris & Objektivitas Pemberitaan Oleh:Rachmat Kriyantono, Ph.D:
Kasus dukungan kepada Prita dalam kasusnya dengan
Rumah Sakit (RS) Omni. Prita menulis email kepada temannya yang berisi
keluhannya terhadap pelayanan RS Omni. Sayangnya, email tersebut bocor dan RS
Omni menuntut Prita atas pencemaran nama baik. Prita pun disidang di
pengadilan. Publik memberikan dukungan antara lain lewat facebook yang bisa
mendorong perilaku pengumpulan uang koin untuk mendukung Prita. Sebuah media
televisi menindaklanjuti kampanye pengumpulan uang tersebut. Mulai dari rakyat
kecil hingga pejabat turut mendukung “gerakan peduli Prita” tersebut.
Akibatnya, RS Omni bukan hanya berhadapan dengan Prita, tapi juga berhadapan
dengan publik dan media massa.
Berdasarkan Model Excellence yang simetris ini,
misalnya jika terjadi pemberitaan yang negatif yang dimuat media, praktisi
Humas jangan hanya menuduh media tidak objektif. Humas sebaiknya melakukan
refleksi apakah mereka telah menyediakan informasi yang memadai dan seimbang
sehingga media dapat menulis secara cover both sides.
5. Publisitas akan memungkinkan untuk memberikan
infromasi lebih detail mengenai perusahaan atau produknya. Disini berlaku
prinsip awal tujuan public relations untuk menciptakan citra positif dimana
citra positif terbangun dengan ketercukupan informasi mengenai perusahaan,
dengan publisitas informasi yang diberikan akan detail dan ketercukupan
infromasi pun akan terpenuhi.
Hubungan yang semakin baik antara public relations
dengan media akan semakin memperbesar peluang informasi yang ditulis public
relations dimuat. Karena pada dasarnya dimuat atau tidaknya informasi merupakan
wewenang media, dalam hal ini sang PR diperhatikan dan simpati dengan
partnernya, yakni perusahaan tempat public relations tersebut, sehingga
informasi akan lebih berpeluang dimuat. Berpeluang atau tidaknya informasi
dimuat dipengaruhi bagaimana hubungan public relations dengan media.
Sedangkan untuk kekurangan publisitas public relations
dapat menanggulanginya dengan membangun hubungan yang baik dengan media. Disini
berlaku prinsip “wins editor heart & mind” yang berarti “menangkan hati dan
pikiran ediotr” (Kriyantono, 2008:70). Disini public relations perlu membangun
hubungan yang baik dengan memenangkat hati dan fikiran sang editor publisitas
dalam media. Kualitas liputan berita di media sangat dipengaruhi oleh kualitas
hubungan media. Karena pada prinsipnya media dan public relations layaknya
simbiosis mutualisme. Public relations butuh media dalam rangka penyebaran
informasi mengenai perusahaan. Media sejatinya juga butuh public relations,
karena dapat membantu mereka dalam pencarian berita, untuk memenuhi hak
masyarakat akan informasi. Dari penjelasan tersebut, meskipun publisitas
memiliki kekurangan, namun jika public relations bisa memanfaatkan kekurangan
tersebut untuk ditanggulangi, hal itu malah akan menjadi titik point untuk
memaksimalkan kelebihan-kelebihan dari publisitas. Peran publisitas akan lebih
baik dan maksimal lagi disini.
Memahami karakterstik media merupakan dasar bagaimana harus bertindak, bagaimana membangun
komunikasi yang efektif untuk berbias pada terbangunnya hubungan yang baik.
Public relations perlu untuk mengetahui banyak hal mengenai media. Hal tersebut
dianalogikan dengan istilah “ketahuilah dengan siapa anda
berbicara”;”ketahuilah untuk siapa anda menulis” sehingga kita bisa memiliki
dasar pijakan untuk bertindak kedepannya. Deskripsi mengenai perusahaan
beberapa media biasanya tersimpan dalam sebuah media list yang dibuat oleh
public relations. Kriyantono (2008) menjelaskan ada beberapa hal yang dilakukan
untuk memahami kebutuhan media :
1. Selalu
Menyampaikan informasi secara jujur
2. Penuhi janji ada
3. Jangan sampai memberikan pernyataan “no comment”
2. Penuhi janji ada
3. Jangan sampai memberikan pernyataan “no comment”
Karena pada dasarnya public relations adalah pintu informasi. Jika anda
khawatir dampak dari jawaban anda, jawablah dengan sejujurnya untuk memberi
suatu hal yang lebih pasti seperti “maaf itu bukan wewenang saya untuk
menjawab” atau “maaf saya belum punya jawaban terperinci mengenai hal itu,
masih saya pelajari”.
4. Mencerdaskan pers
5. Melayani pekerjaan media
6. Bersikap profesional dalam menghargai profesi masing-masing
7. Jalin komunikasi terus menerus
8. Bekerja sama dengan media
Daftar
Pustaka
Kriyantono, Rachmat. 2016. Public Relation Writing.
Jakarta; Prenada
Lattimore, Dan, dkk. 2010. Public Relations: The Profession
& The Practice. Jakarta: Salemba Humanika.
Cutlip, Scott, M,m Center Allen H. & Broom.Glen. M.
(2009), Effective Public Relations,Ed. 9. Jakarta : Kencana Prenada
Media Grup.
Komentar
Posting Komentar