Langsung ke konten utama

Bagaimana Pentingnya Teori-Teori Tentang Berita dalam Praktik Jurnalistik dan Public Relations


Nama : Namratul Ulya Fathulimamah Murdani
NIM : 195120207111054
Kelas : Dasar-Dasar Public Relations D-2 (Kamis 09.40-12.10)

Inline image

Melalui akun Youtube-nya (https://www.youtube.com/watch?v=19sR5_PASO5U&t+504s0) yang berjudul “RACHMAT KRIYANTONO,PhD: KULIAH ONLINE PUBLIC RELATIONS DAN BERITA” , pak Rachmat Kriyantono menjelaskan bahwa salah satu kegiatan seorang praktisi public relations yakni menghasilkan produk jurnalistik yang berupa berita. Karena baginya seorang praktisi public relations merupakan sumber informasi atau berita bagi public khususnya sebagai sumber berita yang menginformasikan aktivitas organisasi sehingga secara tidak langsung public relations juga merupakan sumber berita bagi wartawan/jurnalistik dan media massa tertentu.
Sebuah tulisan yang dibuat oleh public relations dapat dikategorikan sebagai berita yang baik apabila berpatok pada salah satu pasal yakni Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia tahun 2006 yang berbunyi “Wartawan Indonesia selalu menguji indormasi, memberitkana secara berimbang dan adil, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi serta menerapkan asas praduga tak bersalah.”

1.      Berita Itu Objektif
Menurut Rachmat Kriyantono (2008) untuk menghasilkan berita yang berkualitas sebuah berita haruslah memenuhi prinsip-prinsip objektivitas berita. Objektivitas berita mencakup dua hal, yaitu
a.       Faktualitas : Berdasarkan fakta dan tidak merupakan opini wartawan. Berita yang memiliki faktualitas dapat dilihat dari ciri-cirinya yaitu:
-          Berita harus benar (truth). Fakta dalam berita harus dapat dikonfrimasi ulang atau dicek dengan sumber berita perihal kebenarannya. Bila mengandung kebenaran, maka bisa disebut akurat.
-          Tidak mencampuradukkan antara fakta dan opini pribadi wartawan. Fakta merupakan hasil pencarian wartawan yang bisa berupa wawancara sementara opini adalah pendapat pribadi si wartawan.
-          Berita harus lengkap (completeness), tidak boleh dihadirkan sepotong-potong. Artinya dibangung atas unsur-unsur berita yang lengkap yaitu 5W+1H (what, when, who, why, where dan how)
-          Berita harus relevan (relevance) dengan kondisi saat berita itu disebarkan. Artinya bagaimana dampak berita kepada pembaca. Jika dampaknya negative sebaiknya tidak disebarkan. Juga harus diperhatikan pentingkah materi berita itu bagi pembaca? Apakah dibutuhkan?
-          Berita harus informatif (informativeness) artinya mampu memberikan infomasi yang jelas dan lengkap mengenai peristiwa yang diberitakan. Agar informatif, berita harus komprehensif tetapi focus (tidak bertele-tele), ringkas (concise), jelas (clarity), mengandung 5w+1H dan mudah dipahami.

Contoh faktualitas : Suatu media massa memberitakan kejadian dengan judul “Terduga Mantan ISIS Telah Kembali ke Tanah Air Beberapa Waktu yang Lalu” jelas dengan kalimat yang seperti sudah menyalahi salah satu ciri-ciri ke objektivitasan berita, berita tersebut memakan kata “Beberapa Waktu Yang Lalu” dan tidak menampil “when” yang diharuskan pada kelengkapan berita yaitu 5w+1H

b.      Imparsialitas :Berita mesti tidak berpihak pada golongan tertentu, harus besifat netral dan informasi yang disampaikan tidak sepotong-potong dalam penyajiannya. Ciri-ciri berita yang imparsial ialah :
-          Berita harus seimbang dalam pemberitaannya. Prinsip keseimbangan ini biasa dikenal dengan istilah “cover both sides,” yaitu berita yang meliputi dua pihak secara seimbang.
-          Berita harus netral. Netral yang dimaksud untuk tidak memihak salah satu pihak dengan memberikan opini-opini pribadi wartawan. Kenetralan bisa dilihat dari penyajian kata atau kalimat maupun sudut pandang pemberitaan itu sendiri.
-          Berita seharusnya tidak sepotong-potong. Berita harus ditulis berdasarkan konteks peristiwa secara keseluruhan dan tidak ada bagian yang dihilangkan oleh kecendrungan subjektif.
Contoh Imparsialitas : Hasil penelitian Masyarakat Peduli Media menunjukkan adanya keberpihakan media terhadap pemiliknya. Peneliti dari Masyarakat Peduli Media, Muzayin Nazaruddin, memberikan dua contoh media televisi yang berpihak ke pemiliknya, yakni TV One milik Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie dan Metro TV milik Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Sehingga yang terjadi adalah pemberitaan yang dihadirkan tidak seimbang dan tidak pula bersifat netral. Sehingga berita yang dihadirkan sudah menyalahi salah satu ciri dari Imparsialitas yakni tidak bersifat netral.

2.      Narasumber Kredibel
Sebuah berita yang berkualitas apabila narasumbernya adalah seorang ahil atau paka terpecay dan mengetahui jelas tema perstiwa yang dibicarakan. Jika narasumber tersebut tidak memenuhi unsur tersebut maka kebenaran beritanya patut dipertanyakan dan diragukan.

3.      Berita Harus Bernilai (Memiliki News Value/News Wothy)
Berita harus mengandung nilai berita, sesuatu yang diasumsikan menarik perhatian public. Bagi seorang public relations, nilai berita ini penting sewaktu membuat press release yang dikirim ke media. Semakin media menganggap berita yang disampaikan itu menarik (memiliki daya jual) maka semakin besar pula kemungkinan berita itu dimuat. Nilai berita biasanya terdapat pada judul atau kepala berita.

4.      Jenis Nilai Berita
Berita diyakini dapat merangsang orang untuk membaca jika berkaitan dengan :
-          Sesuatu peristiwa yang terbaru (actual)
Pada dasar semua manusia pasti memiliki keingin tahuan akan suatu hal. Masyarakat akan tertarik membaca informasi yang baru mengingat rasa penasaran manusia akan suatu hal yang baru.
-          Proksimitas (kedekatan)
Masyarakat cenderung tertarik membaca berita yang mengandung unsur kedetakan, baik secara emosional maupun geografis. Contoh, masyarakat yang bertempat tinggal di Medan cenderung lebih ingin mengetahui apa yang sekarang terjadi di Medan disbanding mengetahui apa yang sedang terjadi di Batam atau tempat lainnya. Ada kedekatan geografis dalam berita yang membuat pembaca tertarik.
-          Magnitude (kebesaran)
Berita dianggap menarik karena ada unsur “kebesaran” di dalamnya. Contoh : konser Tulus di Spanyol dihadiri oleh 10.000 orang asing berlangsung meriah dan megah.
-          Prominence (kemasyhuran)
Kemasyuran ini bisa mencakup orang atau objek tertentu.
-          Tema-tema menarik (human interest)
Human Interest adalah peristiwa yang menarik perasaan orang atau membuat orang bersimpati dan empati. Beberapa tema yang besar kemungkinan menarik perhatian orang untuk membacanya antara lain; seks, kriminalitas, konflik, uang, olahraga, bencana alam, humor, ketegangan, hobi, binatang, perang, penderitaan maupun klenik (supranatural).


Daftar Pustaka

Kriyantono, R. (2008). Publik Relations Writing: Teknik Produksi Media Public Relations dan Publisitas Korporat. Jakarta : Kencana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

xoxo

"Hiduplah dengan apa yang kau cintai, selama itu baik" - Namratul Ulya "You can hate someone, but not to forever" -Namratul Ulya

Analisi Berita Sesuai Teori- Teori Berita

Nama : Namratul Ulya Fathulimamah Murdani NIM : 195120207111054 Kelas : Dasar-Dasar Public Relations D-2 (Kamis 09.20-12.10) Sumber Berita : https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20200401103805-142-489004/pecat-17-pemain-efek-corona-klub-slovakia-terancam-bubar Dapat dilihat berita yang dihadirkan oleh CNN Indonesia yang berjudul Pecat 17 Pemaian Efek Corona, Klub Slovakia Terancam Bubar. Melihat dari sisi ke objektivitas-an berita. Berita yang dihadirkan sudah bersifat fakta dan tidak merupakan opini dan wartawan. Peristiwa yang diangkat dapat dikonfirmasi ulang dikarenakan narasumber yang diwawancarai merupakan narasumber resmi dan terpecaya yakni dari pihak klub Slovakianya sendiri. Kelengkapan berita juga dapat diakui melihat 5W+1H yang sudah terpenuhi. What (Apa) : Klub pengoleksi tujuh gelar Liga Slovakia MSK Zilina terancam dilikuidasi alias bubar setelah memecat 17 pemain akibat  pandemi coron a . When (Kapan) : Sejak terjadinya wabah corona...

Public Relations dan Informasi Hoaks

Nama: Namratul Ulya Fathulimamah Murdani NIM: 195120207111054 Kelas: Dasar-Dasar Public Relation D-2 (09.40-12.10) 1.       Jelaskan "apakah Hoaks" itu berita? Beri alasan ilmiahnya? Jika bukan berita mk hoaks itu lebih baik disebut apa? Jika anda menyebut berita, alasannya apa? Apakah Hoaks merupakan berita? Menurut Wikipedia, pengertian berita sendiri merupakan informasi baru atau informasi mengenai sesuatu yang sedang terjadi, disajikan lewat bentuk cetak, siaran, internet, atau dari mulut ke mulut kepada orang ketiga atau orang banyak. Hoaks sendiri merupakan informasi yang sumber pembuatnya dan penyebarnya tidak jelas, pesannya tidak cover both sides, yakni hanya membela atau menyerang pihak-pihak tertentu, tidak ada sumber yang jelas untuk mengecek ke valid-an informasi tersebut. Berdasarkan penjelasan diatas, menurut saya Hoaks merupakan berita karena mengandung sebuah informasi yang peyajiannya bisa dalam bentuk cetak, siaran, i...