Nama: Namratul Ulya Fathulimamah Murdani
NIM: 195120207111054
Kelas: Dasar-Dasar Public Relation (Kamis 09.40-12.10)
Keterkaitan yang dimiliki seorang jurnalis dengan
seorang praktisi public relation sebagai partner kerja dapat disebut sebagai
hubungan simbiosis mutualisme (Kriyanton, 2016). Public relations sebagai
sumber dari informasi untuk membantu jurnalis menulis berita dan jurnalis yang
juga membantu penyebaran dari berita tersebut kepada masyarakat banyak,
terlebih lagi berita yang dimuat merupakan berita dari suatu organisasi.
Walaupun begitu, jurnalis dan public relation terkadang
memiliki kontradiksi mengingat kedua pihak tidak memiliki bisnis yang sama dan sering
memiliki tujuan komunikasi yang berbeda (Cutlip, Center, & Broom, 2011).
Jurnalis lebih membutuhkan untuk mendapatkan informasi dan kejujuran sementara
di sisi lain praktisi public relations sering dirasa untuk mencoba menutupi apa
yang sedang terjadi di sebuah organisasi (Kriyantono, 2016).
Selain menjadi sumber berita bagi jurnalis itu sendiri,
seorang public relations juga harus menyesuaikan posisinya terhadap
lingkungannya. Di era internet atau yang dikenal sebagai era 4.0 praktik public
relation sudah memasuki ranah internet yang juga dikenal sebagai public relations
online, public relation on the net, atau digital public relations (Hallahan
dalam heath, 2013: Kriyantono, 2016;Vercic, Vercic, & Sriramesh, 2015). Penerapan
dari zaman berkembang ini bisa dilihat dari penyebaran informasi oleh praktisi
public relations melalui website.
Internet juga memungkinkan seorang praktisi public
relations melakukan komunikasi dua arah yang interaktif kepada public (Kelleher,
2007; Phillips & Young, 2009). Adapun sifat komunikasi interaktof melauli
internet menjadi factor manajemen hubungan (Holzschlag, 2001).
Dalam teori ini, public dianggap sebagai ketua creator
atau co-creator yang mampu memaknai, mengkritis, atau mendukung program lembaga.
Lebih lanjut, teori relationship management dapat diaplikasikan untuk memahami
relasi website dan fungsi public relations. Teori ini berfokus pada proses
memanajemen relasi internal dan eksternal antara organisasi dan publiknya.
Karenanya, teori ini juga dikenal sebagai pusat atau inti public relations
(Botan & Hazleton, 2006; Ledingham,
Ada teori yang mengatakan bahwa komunikasi pada
website ditujukan untuk memberi keuntungan yang dapat dirasakan para peserta
komunikasi, serta organisasi dan public; yakni adanya suatu keseimbangan
kepentingan antara keduanya, teori ini dikenal sebagai Teori Organisastion-Public
Relationship (OPR). (Ledingham, 2003; Waters, 2009). Ledingham (2003,270)
mendefinisikan OPR sebagai “situasi yang terjadi antara organisasi dan
publiknya yang mana tindakan kedua pihak dapat berdampak bagi kesejahteraan
ekonomi, sosial, budaya atau politik dari masing-masing pihak.” Lebih lanjut,
Bromm menyebut OPR sebagai sebuah relasi yang “direpresentasikan oleh pola-pola
interaksi, transaksi, pertukaran, dan keterhubungan antara organisasi dan
publiknya” (Mutz & Flemming, 1999). Gregory (2005), dikutip di Phillips
& Young (2009, 270) menyebut OPR sebagai “upaya organisasi membangun relasi
dengan publiknya untuk menciptakan relasi positif dua arah (organisasi ke
publik dan publik ke organisasi). Jadi dapat disimpulkan bahwa teori OPR tidak
jauh merupakan interaksi antara organisasi dan publiknya.
Relasi yang baik mungkin akan terwujud dengan
mengelola website yang mudah diakses dengan menggunakan prinsip positivity,
openness, assurances, networking, dan sharing of tasks. Openness bermakna penyediaan
informasi secara terbuka. Networking yaitu membangun jaringan organisasi dengan
kelompok yang memiliki afiliasi yang sama dengan publiknya. Assurances
merupakan upaya semua pihak dalam menjalin dan menjamin hubungan dengan pihak
lain serta berkomitmen untuk menjaga hubungan tersebut. Shared tasks
didefinisikan sebagai keterbukaan organisasi terhadap publiknya untuk berbagi
masalah atau isu yang muncul, karena menurut Rachmat Kriyantono kurangnya
keterbukaan infromasi dapat memicu korupsi terhadap informasi itu sendiri juga
ditambah bahwa public relation lembaga pemerintah belum berperan
mensosialisasikan pesan-pesan anti korupsi dalam program kerja mereka.
Akhirnya, level interaksi dalam website organisasi
menentukan kecenderungan persepsi publik terhadap organisasi (Guillory &
Sundar, 2008). Cuillier & Piotrowski (2009) menyatakan bahwa penggunaan
internet membuat pencari informasi dan layanan elektronik pemerintah makin
meningkat (Smith, 2003). Selain itu, website juga mendorong eGovernment yang
lebih demokratis (Lee-Geiller & Lee, 2019).
Terkait dengan hubungan fungsi hubungan masyarakat
berdasarkan peraturan menteri, literatur, dan karakter publik di era demokrasi,
peneliti merumuskan asumsi penelitian bahwa PR publik dan swasta telah
melakukan penelitian sebagai dasar dari kegiatan mereka dan hubungan media
telah dilakukan dengan prinsip pengungkapan informasi.
Pentingnya humas pemerintah juga melakukan penelitian
dan hubungan media karena Indonesia telah memasuki era demokrasi sejak
reformasi. Era demokrasi ini menuntut pengungkapan informasi publik karena
publik semakin kritis dan memiliki akses mudah ke informasi (Kriyantono,
Destrity, Amrullah, & Rakhmawati, 2017). Terkait dengan prinsip universal
PR dari Ivy Lee, katakan yang sebenarnya (Grunig & Hunt, 1984; Kriyantono,
2017), dapat dikatakan bahwa praktisi PR harus secara teratur melakukan
penelitian untuk mendapatkan informasi yang berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA
Kriyantono, R. (2019). How Journalists Perceive The Media Relations of Public Relations as News-Sources in Indonesia. 1-11.
Kriyantono, R. (2019). JOURNALISTS PERCEPTIONS OF GOVERNMENT PUBLIC RELATIONS WEBSITES AS INFORMATION SUBSIDIES IN DEMOCRACY ERA. New Media and Digital Inclusion, 98-115.
Kriyantono, R. (2019). Research Strategies and Media Relations in Public Relations Practices. Jurnal KOMUNIKATIF Vol. 8 No. 2 Desember 2019 , 178-190.
Kriyantono, R. (2020). Efektivitas website perguruan tinggi negeri sebagai penyedia informasi bagi mahasiswa. Jurnal Studi Komunikasi, 117-142.
Kriyantono, R. (n.d.). How to Conduct a Good Media Relations.
Kriyantono, R. (2019). How Journalists Perceive The Media Relations of Public Relations as News-Sources in Indonesia. 1-11.
Kriyantono, R. (2019). JOURNALISTS PERCEPTIONS OF GOVERNMENT PUBLIC RELATIONS WEBSITES AS INFORMATION SUBSIDIES IN DEMOCRACY ERA. New Media and Digital Inclusion, 98-115.
Kriyantono, R. (2019). Research Strategies and Media Relations in Public Relations Practices. Jurnal KOMUNIKATIF Vol. 8 No. 2 Desember 2019 , 178-190.
Kriyantono, R. (2020). Efektivitas website perguruan tinggi negeri sebagai penyedia informasi bagi mahasiswa. Jurnal Studi Komunikasi, 117-142.
Kriyantono, R. (n.d.). How to Conduct a Good Media Relations.
Komentar
Posting Komentar